Laman

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

TULAB DAN HUJAN


         Musim hujan telah tiba. Hampir setiap hari hujan turun membasahi bumi. Ada seorang anak laki-laki yang senang sekali bila hujan turun. Anak itu bernama Tulab. 
Bila hujan turun, Tulab akan segera berlari menuju beranda rumahnya. Pertama-tama yang akan ia lakukan adalah menjulurkan tangannya agar basah terkena air hujan. Setelah itu, ia menjulurkan kaki kanannya. Sama, agar basah terkena air hujan. Bila Mama tak melihatnya membasahi tangan dan kakinya dengan air hujan, ia akan segera hujan-hujanan namun, jika Mama mengetahui hal itu, Mama langsung menyuruh Tulab untuk mandi dan keramas. Tentu saja sambil mengomel. Tulab hapal benar apa isi omelan Mamanya. Biasanya Mama mengomel, “Tulab, sudah berapa kali Mama bilang, jangan hujan-hujanan. Nanti kamu sakit, yang repotkan pasti Mama juga.”
Siang ini hujan kembali turun. Belum sempat Tulab keluar rumah, Mama sudah berdiri di dekatnya. “Mau kemana Lab?” tanya Mama penuh selidik. “He…he…he…” Tulab hanya tersenyum. “Tulab, di luar hujan. Ayo, lebih baik kamu tidur siang!” ucap Mama sambil menggandeng Tulab menuju kamarnya. “Jangan lupa baca doa sebelum tidur ya!” pesan Mama sambil menutup pintu kamar Tulab lalu menuju dapur.
Beberapa saat kemudian pintu kamar Tulab terbuka perlahan-lahan. Ia berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Semua dilakukan dengan perlahan dan hati-hati agar tak diketahui Mama. 
“Yes!!!” ucap Tulab tertahan saat berhasil keluar rumah. Di seberang jalan ia melihat teman-temanya sedang asyik hujan-hujanan. Ada Aji, Uwi dan Salim.  Tulab segera bergabung dengan mereka. “Eh, kita hujan-hujanannya jangan di sini. Nanti aku ketahuan Mama.” kata Tulab. “Ya sudah kita jalan ke sana aja yuk!” usul Aji. Semua setuju. Mereka berjalan, sesekali berlari dan melompat bila ada genangan air. Sehingga air tersebut muncrat mengenai mereka sendiri. Lalu mereka tertawa riang.
Kelima anak itu berjalan dan terus berjalan. Tanpa mereka sadari kini mereka sudah berada di dekat persawahan. “Asyik !!!” seru mereka sambil merentangan kedua tangan mereka serta menengadahkan kepala mereka. Membiarkan air hujan langsung membasahi wajah mereka. 
Tiba-tiba, petir menyambar, guntur menggelegar dan hujan pun kian deras. Langit semakin gelap. Mendengar suara guntur yang menggelegar mereka kaget dan ketakutan. “Aku takut. Aku mau pulang.” suara Aji terdengar bergetar. “Ayo kita pulang saja sekarang!” komando Uwi. Serempak mereka berlari pulang. 
Hujan semakin deras. Jalan yang mereka lewati tadi mulai tergenang air. Mereka berlari dan terus berlari. Tulab jauh tertinggal karena badannya yang paling gendut dibandingkan keempat temanya yang lain. Ia terus berlari. Matanya perih terkena air hujan. Badannya menggigil kedinginan.
Tiba-tiba, “Bruuuuk!!!” Tulab terjatuh. Kaki kirinya masuk ke dalam jalan yang berlubang. Karena jalan yang tertutup air, ia tidak menyadari ada lubang disana. “Mama…” Tulab menangis kesakitan. Ia meraba kaki kirinya. Perih, kakinya terluka. “Ma, Tulab mau pulang.” isaknya. Ia berusaha untuk bangkit. Ia memandang sekelilingnya. Sepi, tak ada seorang pun yang melintasi jalan itu. Semua teman sudah jauh meninggalkannya. 
“Tolong…tolong…”  teriaknya meminta tolong. Namun sia-sia, tak seorang pun yang mendengar teriakannya. Tulab semakin ketakutan. Ia berjalan tertatih-tatih sambil menangis tersedu-sedu. “Hu...Hu… Mama tolong Tulab Ma! Tulab janji tidak akan nakal lagi!” teriaknya.
Beberapa saat kemudian sebuah becak melaju lambat menuju ke arahnya. Tulab melambai-lambaikan tangannya. “Tolong…” teriaknya lagi. Becak berhenti di dekat Tulab. “Tolong Pak! Hu…hu…” tangisnya pecah kembali. “Lho kamu di sini lagi ngapain? Kok sendirian?” tanya Pak Becak. “Aku mau pulang Pak. Tapi ngga tahu jalan pulang. Hu…hu…” jawab Tulab. “Ya sudah ayo naik, Bapak antar pulang! Tapi rumahmu dimana?” tanya Pak Becak itu lagi. “Rumahku di jalan durian Pak” ia bergegas menaiki becak itu. Beruntung Tulab bertemu dengan tukang becak yang baik hati.
Di depan rumah, Mama mondar-mandir. Wajahnya terlihat sangat cemas. Tiba-tiba sebuah becak berhenti tepat di depan beranda.Tulab turun dipapah oleh Pak Becak. “Ya Allah Tulab…” teriak Mama panik melihat kondisi Tulab. Mama langsung memeluk Tulab. “Tulab, dari mana saja kamu Nak? Mama cemas sekali.” ucap Mama sambil membelai rambut Tulab. Tangis Tulab kembali pecah. “Maafkan Tulab ya Ma! Ini semua akibat kalau tidah mendengarkan nasehat Mama. Tulab janji ngga akan mengulanginya lagi. Tulab ngga akan hujan-hujanan lagi.” janji Tulab. Mama terharu. Mama merasa Tulab telah mendapatkan pelajaran yang berharga dari kejadian ini. 
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Becak, Mama segera mengajak Tulab masuk. Ia berjalan tertatih-tatih menahan kaki kirinya yang sakit, matanya yang perih, badannya yang menggigil kedinginan dan, “Hatchiiiiii…” ia bersin. Itulah akibatnya bila tidak mendengar nasehat orang tua. 

                                             Cicierahma, 2011
                                                                          


Senin, 07 Maret 2011

PERSAHABATAN OKI AME DAN TATAK



             Di depan rumah besar, ada sebuah kolam yang dihuni oleh Oki si ikan koki, Ame si ikan gurame dan Tatak si katak hijau yang bersahabat baik. Namun, semenjak ditinggal pindah pemiliknya, air kolam menjadi keruh dan bau. Sehingga membuat mereka tidak betah lagi tinggal di kolam itu.
            “Duh, kapan ya kita bisa berenang di air yang jernih?” keluh Oki. “Sabar Ki, mudah-mudahan ada orang yang mau berbaik hati membersihkan kolam ini.” hibur Tatak. “Iya, nafasku juga sering sesak bernafas di air yang keruh ini.” tambah Ame. “Tapi, biarpun begini kita harus tetap bersyukur. Sebab kita masih bisa berkumpul dan bermain bersama.” ucap Tatak bijaksana.
            Suatu hari, Tatak melompat-lompat penuh semangat menghampiri kedua sahabatnya. “Hei ada berita gembira!” serunya. “Ada berita apa Tak?” tanya Oki penasaran. “Kalian tahu, ada penghuni baru di rumah itu.” kata Tatak lagi. “Yang benar Tak, kamu tahu dari mana?” tanya Oki tetap tak percaya.
            “Tadi, waktu aku sedang mengejar nyamuk di dekat pagar, aku melihat ada orang di dalam rumah itu. Saat kuintip dari jendela, ternyata mereka ada tiga orang. Ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang bernama Ali.“ jelas Tatak. “Aku harap mereka akan tetap memelihara dan merawat kita!” kata Ame.
Hari minggu yang cerah. Ame dan Oki sedang bermain di permukaan kolam. Tiba-tiba, terdengar Tatak berteriak “Ame, Oki bahaya… awas bahaya!” Oki dan Ame yang sedang berenang di dasar kolam bergegas naik ke permukaan kolam.
“Ada apa Tak, kamu kok ketakutan begitu?” tanya Oki. “Wah gawat, pokoknya gawat. Teman-teman ada yang mau memisahkan kita. Tadi aku melihat Ali dan ayahnya sedang berjalan menuju kemari. Mereka membawa beberapa ember dan jaring. Aku takut mereka akan menangkap kita lalu akan membuang kita ke selokan. Aku tidak mau berpisah dengan kalian!” ucap Tatak ketakutan.
“Oh, tidak. Kita harus bagaimana Tak?”  tanya Ame bingung. “Apa pun yang terjadi kalian harus selalu bersama. Jauhi jaring itu. Jangan sampai kalian tertangkap.” perintah Tatak. Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat dan semakin dekat.
“Aku sembunyi dulu. Jaga diri kalian baik-baik!” pesan Tatak lalu ia melompat dan sembunyi di rerumputan. Oki dan Ame juga bergegas sembunyi diantara lumut dan bebatuan.
“Ayah, kolamnya kotor sekali.” ucap Ali sesampainya di dekat kolam. Ayah hanya mengangguk lalu mengambil jaring dan memasukannya ke dalam kolam. Oki dan Ame ketakutan. “Ya Allah, tolong kami. Jangan pisahkan kami Ya Allah.” Ame berdoa.
Ayah mengaduk-aduk kolam dengan jaring. Sesekali diangkatnya jaring itu untuk melihat dan membuang benda-benda yang menyangkut di jaring. Oki dan Ame berenang kesana kemari menghin dari jaring.
Tiba-tiba, “Tolong…tolong…tolong…” teriak Ame. Ia terjaring. Tangan kekar Ayah menangkapnya lalu memasukannya ke dalam ember dan menutup ember itu. Tinggal Oki yang tersisa. Sekali lagi Ayah mengaduk isi Kolam dengan jaring. Namun Oki selalu dapat menghindar. Air kolam yang keruh membuat Ali dan Ayah tidak dapat melihat dengan jelas isi kolam.
“Yah, kita buang saja air kolam yang kotor itu!” usul Ali. Dengan sigap ia membuka lubang sumbatan yang berada di samping bawah kolam. “Syuuuuurrrrrr!” air deras memancar keluar. “Tolong…tolong….tolong….” teriak Oki. Namun sayang tidak ada yang mendengar teriakannya.
Air di dalam kolam sudah habis. Oki menggeleparkan badannya. Ia kesulitan bernafas. “Tolong…tolong…tolong…” teriaknya lemah. Sesaat kemudian, “Yah, ada ikan!” seru Ali. Dengan cekatan ia meraih tubuh Oki lalu memasukannya ke dalam ember yang lain dan menutupnya.
Di dalam ember Oki ketakutan. Ia tidak dapat melihat karena gelap. Ia hanya dapat mendengar suara-suara aneh. Seperti suara orang yang sedang menyikat. “Srek…srek…srek!” disusul dengan suara gemericik air.
Tiba-tiba, embernya bergerak. Sepertinya ada yang mengangkat ember itu. Lalu perlahan-lahan tutup ember terbuka dan, “Byuuuuuur!!!” tubuh Oki terdorong keluar. Ada yang menuangkannya.
Tahu-tahu, Oki sudah berada di suatu tempat yang sangat ia kenal. Kolam, ya benar kolam. Namun kolam yang ia tempati saat ini telah berubah keadaanya. Kini airnya jernih dan bersih. Bahkan ada air mancurnya. “Hore..” Oki bersuka cita. Namun, saat teringat sahabatnya Ame, Oki menjadi sedih kembali. “Ame, kamu ada dimana?” ucap Oki lirih ia termenung teringat sahabatnya.
“Oki!” ada yang memanggilnya. Oki menengok ke kanan dan ke kiri. Namun tak ada siapa-siapa. “Oki!” terdengar lagi panggilan itu. Oki segera membalikan badanya. “Ame!” seru Oki bahagia ia segera berenang mendekati sahabatnya. ”Alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah mempertemukan kami.”  Ame bersyukur. “Kungkong…kungkong…” Tatak juga ada diantara mereka. Ketiga sahabat itu berenang-renang dengan riang gembira.
            Di luar kolam, terdengar Ali sedang berbicara dengan ayahnya. “ Yah, terima kasih ya, sudah mau membantu Ali membersihkan kolam ini. Ali berjanji akan selalu merawat dan membersihkan kolam ini.” 

 Cici, juni 2008

Minggu, 06 Maret 2011

SEKOLAHKU ASYIK SEKALI



“Pokoknya Uki ngga mau sekolah!” ucap Uki saat Bunda menyuruhnya mandi. Ya, itulah rutinitas Uki setiap minggu pagi bila disuruh sekolah. Sebenarnya Uki selalu bersemangat bila berangkat sekolah. Namun, setiap hari minggu ia selalu malas berangkat sekolah. Maunya nonton tv terus. Maklum, acara tv setiap minggu pagi penuh dengan film kartun. 

Uki bersekolah di Play Group Mumtaz. Yang membedakan sekolah Uki dengan sekolah lainnya adalah sekolah Uki libur setiap hari Jum’at.

“Ayo sayang sudah hampir jam tujuh nih!” bujuk Bunda lagi. “Kak Dimas aja libur. Berarti Uki juga libur dong.” jawab Uki sambil menunjuk Dimas, kakaknya yang juga sedang asyik menonton tv. Merasa namanya disebut, Dimas angkat suara. “Lho hari ini kan sekolah kakak memang libur.” bela Dimas. “Pokoknya, kalau Kak Dimas libur Uki juga libur” balas Uki dengan wajah cemberut. 

Tiba-tiba Ayah yang dari tadi membaca Koran berkata, “Siapa yang mau Ayah ajak  main?” Dimas dan Uki langsung mengacungkan jarinya. “Nah kalau mau ikut, berarti sekarang harus mandi!” perintah Ayah. Serempak kakak beradik itu bergegas mandi. Tinggal Bunda yang menatap Ayah dengan tatapan bingung. “Ayah, kok mereka malah diajak main. Uki kan harusnya berangkat sekolah.” protes Bunda.

Jam dinding di ruang makan menunjukan pukul setengah delapan. Selesai sarapan, Ayah, Bunda, Dimas dan Uki bergegas berangkat. Uki terlihat bersemangat. Sudah tak ia pedulikan lagi film kartu kesukaannya. Yang ada hanya main, main dan main. “Kita mau main kemana sih Yah?” tanya Dimas penasaran. Ayah yang sedang mengemudikan mobil tersenyum, “Kita mau pergi ke tempat yang banyak mainanya. Dan kalau sudah puas main, nanti Ayah traktir es krim deh.” Dimas dan Uki semakin tak sabar untuk secepat mungkin sampai kesana. Hanya Bunda yang sepertinya masih belum paham dengan rencana Ayah.

Mobil yang ayah kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Setelah melewati alun-alun kota, mobil yang mereka naiki berhenti tepat di sebuah pintu gerbang. Di dekat sana terpampang sebuah papan besar yang bertuliskan Play Group Mumtaz. “Alhamdulillah, sudah sampai nih. Ayo kita turun!” kata Ayah. 

“Yah, ini kan sekolahku.” ucap Uki. Raut mukanya tiba-tiba berubah. “Iya, ini sekolah Uki. Kita memang mau main di sini.” Ayah melepas sabuk pengaman. “Uki ngga mau turun!” protes Uki. Dimas yang masih penasaran dengan sekolah Uki bergegas turun. “Ki, ayo turun, Kakak ingin naik ayunan nih!” ajak Dimas. Merasa ajakanya tak ditanggapi, Dimas segera berlari menuju tempat bermain. “Bunda juga mau menemani Kak Dimas main ah.” ucap Bunda meninggalkan Ayah dan Uki.

“Ayo Ki turun! Lihat itu banyak mainanya. Ada ayunanya, perosotanya, jungkat-jungkitnya, komidi putarnya. Dan kalau tidak salah, kemarin Ustadzahnya Uki bilang hari ini kelasnya Uki mau main asyik lho. Mau jualan minyak, main dengan busa sabun.Terus katanya mau buat adonan kue. Wah, pasti seru. Gimana, mau turun ngga?” bujuk Ayah. “Uki ngga mau!” tolaknya lagi. “Ya sudah, kalau begitu Uki tunggu di mobil saja, biar Ayah, Bunda dan Dimas saja yang main air.” Ayah turun dari mobil. Belum sempat pintu mobil tertutup, Uki bergegas turun dengan wajah cemberut. 

Saat itu, teman-teman Uki sedang berkumpul di depan kelas. Mereka tampak asyik memperhatikan Ustadzah Nina yang sedang menjelaskan sesuatu. Malu-malu Uki pun menghampiri mereka.

“Baiklah, sekarang kalian boleh memilih kegiatan yang akan kalian mainkan hari ini. Tapi ingat tidak boleh berebutan. Oke!” Ustadzah Nina mengingatkan. Anak-anak langsung berhamburan memilih kegiatan yang mereka inginkan.

Uki langsung menyerbu kegiatan membuat adonan kue. Disana sudah ada Ustadzah Yuni yang siap membimbing. Uki dan beberapa temannya asyik mencampur tepung, garam, minyak goreng dan air untuk dibuat menjadi adonan kue. Dengan lihai tangannya mengaduk semua bahan yang ada hingga tercampur. Dia membayangkan sedang membuat pizza. Aduk lagi,campur lagi, tambah air lagi sampai-sampai wajah dan bajunya belepotan tepung. Uki sudah sibuk dengan adonannya. Bahkan ketika ditanya ustadzah Yuni, ia bercita-cita untuk menjadi koki. Rupanya Uki sudah tidak ngambek lagi.

Dimas yang melihat kegiatan Uki ingin sekali mencoba. “Eh…ngga boleh. Kakak kan udah SD ngga boleh main ini.” Uki melarang kakaknya bermain. “Ki, ikutan dong sebentar saja.” pinta Dimas. Dari jauh, Ayah dan Bunda memperhatikan mereka berdua dengan seksama.

Pukul setengah sebelas, sekolah Uki usai. Tak lupa Ayah menepati janji untuk mentraktis es krim. “Gimana Ki, mainnya asyik kan?” tanya Ayah. “Yah, tadi aku jadi koki lho. Bikin pizza.seru deh.” balas Uki bersemangat. “Ki, hari minggu depan Kakak ikut Uki sekolah ya!” pinta Dimas sambil menikmati es krim coklatnya. Ayah dan Bunda tersenyum mendengarnya. “Tuh Ki, Kakak aja suka sama sekolahmu. Ternyata sekolah itu asyik kan…” ucap Bunda sambil tersenyum. Uki mengangguk-angguk sambil terus menikmati es krimnya. 

Cici, akhir 2007